Serunya Keliling Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa di Parung!

Serunya Keliling Program Pemberdayaan Dompet Dhuafa di Parung!

Halo, Sob Apa kabar? Gak kerasa ya,  sudah memasuki minggu  akhir Ramadan.. Ga nyangka waktu begitu cepat  berlalu tapi ga usah risau karena minggu ini saya punya pengalaman menarik pas tanggal 11 Maret 2026 yang lalu.

Saya berkesempatan ikut dalam acara “Jurnalis Keliling Pemberdayaan” bareng teman-teman media lainnya. Tujuannya satu: melihat langsung gimana dana zakat yang kita salurkan lewat Dompet Dhuafa (DD) benar-benar bekerja “mengubah nasib” orang banyak. Lokasinya di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat.

Ternyata, zakat itu kalau dikelola dengan cerdas, hasilnya bukan cuma sekadar bantuan sekali habis, tapi jadi mesin ekonomi yang bikin masyarakat mandiri. Penasaran gimana perjalanannya? Check this out!

1. Dari Kandang Ayam Arab ke Kemandirian Ekonomi

Destinasi pertama kami adalah Pondok Pesantren Miftahul Jannah. Di sini, bau khas peternakan menyambut kita, tapi bukan bau yang mengganggu ya, melainkan bau produktivitas! Hehe. Kami bertemu dengan Pak Yahya, salah satu penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi DD.

Pak Yahya ini mengelola peternakan Ayam Arab Petelur. Kenapa ayam arab? Karena produktivitas telurnya tinggi banget, Sob! Saat ini, kapasitas kandangnya mencapai 250 ekor. Bayangkan, rata-rata per hari Pak Yahya bisa memanen sekitar 150-160 butir telur.

Melihat Pak Yahya telaten mengurus ayam-ayamnya, saya sadar kalau zakat itu memberikan “kail”, bukan cuma “ikan”. Dengan hasil penjualan telur ini, pesantren punya pemasukan tambahan dan Pak Yahya sendiri punya penghasilan yang stabil untuk menghidupi keluarga. Inilah yang namanya menaikkan taraf hidup. Dari yang tadinya mungkin sulit secara ekonomi, sekarang jadi produsen pangan!

2. Zona Madina: “Kota Mini” yang Penuh Berkah

Setelah dari kandang ayam, kami bergeser ke sebuah kawasan ikonik milik Dompet Dhuafa, yaitu Zona Madina. Jujur, saya takjub banget sama kawasan ini. Zona Madina ini ibarat one-stop solution untuk kemanusiaan.

Di sini lengkap banget, mulai dari fasilitas pendidikan (SMP sampai perguruan tinggi), rumah sakit yang melayani kaum dhuafa dengan sangat layak, masjid yang megah, sampai pusat kebudayaan. Tapi yang paling mencuri perhatian saya hari itu adalah geliat pemberdayaan ekonominya yang sangat modern namun tetap berbasis masyarakat.

Semua program di sini dikelola secara terpadu. Jadi, antara pendidikan, kesehatan, dan ekonomi itu saling mendukung. Benar-benar sebuah ekosistem yang sehat banget buat tumbuh kembang UMKM lokal.

3. Bau Harum Roti dari Madina Bakery

Nah, ini dia bagian yang paling bikin lapar! Di Zona Madina, ada program yang namanya Madina Bakery. Ini adalah bagian dari pengembangan ekonomi kreatif di sana. Madina Bakery ini gak cuma sekadar toko roti biasa.

Mereka memproduksi berbagai macam kuliner khas Indonesia dan camilan hasil rumah produksi masyarakat sekitar. Yang keren, Madina Bakery dirancang sebagai pelengkap Kopi Madaya (coffee shop hits di Zona Madina) yang sudah lebih dulu sukses.

Saya sempat masuk ke dapur produksinya, lho! Melihat langsung deretan oven besar dan alat-alat produksi yang standar industri. Gak cuma nonton, saya dan teman-teman jurnalis lainnya juga ditantang buat bikin roti sendiri. Seru banget! Ternyata butuh teknik khusus biar adonannya berbentuk dan bentuknya cantik. Dari sini saya belajar, para pekerja di sini dilatih secara profesional agar produk mereka bisa bersaing di pasar umum, bukan cuma laku karena “kasihan”. Kualitasnya memang juara!

4. Borong Hamper di Rumah UMKM Madina

Perjalanan berlanjut ke Rumah UMKM Madina. Ini adalah “markas” bagi para pelaku usaha mikro di sekitar Parung yang sudah dibina oleh Dompet Dhuafa sejak tahun 2018. Fokus utamanya adalah pengembangan produk dan perluasan jaringan pemasaran.

Pas masuk ke galeri mereka, mata saya langsung ijo! Kenapa? Karena di sana sudah berderet rapi varian kue kering khas Lebaran. Ada Nastar yang glowing, Putri Salju yang dingin-dingin manis, keripik-keripik renyah, sampai paket hampers Lebaran yang dikemas estetik banget.

Gak cuma itu, telur-telur ayam arab dari peternakan Pak Yahya tadi juga dijual di sini dengan harga yang sangat terjangkau. Asli, rasanya pengen borong semua buat stok di rumah. Harga miring, kualitas fresh, dan yang paling penting: dengan membeli produk ini, kita langsung membantu UMKM lokal buat naik kelas. Win-win solution, kan?

5. Ngopi Cantik Berdampak di Madaya Coffee

Capek keliling, paling enak ya ngopi. Kami pun mampir ke Madaya Coffee. Tapi jangan salah, kopi di sini bukan sembarang kopi. Ini adalah hasil olahan petani lokal yang dibina oleh Dompet Dhuafa. Pilihannya banyak banget, ada biji kopi dari Aceh, Padang, Sulawesi Selatan, NTB, sampai Jawa Tengah.

Keragaman produk kopi ini memanfaatkan potensi petani lokal dari seluruh Indonesia. Gak main-main, pemberdayaan petani kopi ini ternyata sudah berjalan sejak tahun 2014. Konsistensinya luar biasa, ya?
Sambil menyeruput kopi yang aromanya strong banget, saya melihat etalase pertanian lainnya.

Ternyata DD juga membina komoditas lain seperti beras dan gula aren. Jadi, kalau kamu ngopi di sini atau beli beras di sini, kamu secara gak langsung ikut memutus rantai kemiskinan di tingkat petani. Keren banget, kan? Ngopi nikmat, pahala dapat.

 Tumbuh Bersama Melalui Zakat

Sobat, perjalanan seharian di Parung ini benar-benar membuka mata saya. Program-program pemberdayaan masyarakat seperti peternakan ayam, Madina Bakery, Rumah UMKM, hingga Madaya Coffee adalah bukti sahih bahwa dana zakat, infak, dan sedekah kita punya kekuatan yang luar biasa.
Adanya pendampingan ini sangat membantu para pelaku UMKM untuk terus berkembang. Mereka gak dibiarkan jalan sendirian. Mereka diberi modal, diberi skill, disiapkan alatnya, sampai dibantu pemasarannya

Harapannya, melalui momen Ramadan 1447 H ini, semangat untuk tumbuh bersama bisa semakin kuat. Kita ingin para penerima manfaat (mustahik) ini suatu saat nanti bisa bertransformasi menjadi pemberi zakat (muzakki). Itulah esensi sejati dari naiknya taraf hidup.

Ternyata, bahagia itu sederhana ya? Melihat Pak Yahya tersenyum saat panen telur, atau melihat olahan mengolah roti, itu sudah cukup jadi pengingat buat kita untuk terus berbagi.

Jadi, sudah siap buat maksimalkan zakatmu tahun ini? Yuk, kita dukung program pemberdayaan seperti ini supaya makin banyak orang yang terbantu dan mandiri. Sampai jumpa di perjalanan literasi pemberdayaan berikutnya!

About The Author

Leave Comment